ASPRASINEWS – Di tengah derasnya arus konten digital yang kerap mengejar validasi dan popularitas, sebuah pemandangan berbeda justru tersaji dari kanal YouTube Musholla Ar-Raudhah Sekumpul. Tanpa kemasan visual yang mewah, tanpa sinematografi megah, tayangan tersebut justru menampilkan kesederhanaan yang kontras dengan besarnya peristiwa yang terjadi.
Sebuah majelis akbar dengan jumlah jamaah yang diperkirakan mencapai 4,9 juta jiwa terekam melalui satu sudut pandang kamera CCTV yang statis. Kamera itu menatap lurus ke arah mimbar imam, tanpa perpindahan angle, tanpa eksplorasi visual lautan manusia yang jika dikelola industri media, bisa menjadi komoditas tontonan bernilai tinggi.
Namun justru di situlah letak pesan yang paling kuat. Di era ketika kata “viral” seolah menjadi tujuan utama, Sekumpul menunjukkan sikap yang berbeda. Tidak ada upaya menonjolkan besarnya massa, tidak ada eksploitasi visual demi mendulang angka penonton. Fokus utama tetap pada substansi majelis, pada pesan keilmuan dan keberkahan yang diyakini mengalir di dalamnya.
Sikap ini kerap disebut sebagai “politik kerendahhatian”, sebuah pilihan sadar untuk tidak berpaling dari niat awal. Kamera yang dibiarkan diam seolah menjadi simbol bahwa yang utama bukanlah siapa yang hadir atau seberapa besar jumlah jamaah, melainkan kemurnian tujuan ibadah itu sendiri.
Padahal, setiap sudut kerumunan adalah peluang emas untuk meledakkan statistik media sosial. Namun bagi Sekumpul, popularitas bukanlah tujuan. Viralitas hanyalah efek samping, bukan sesuatu yang dikejar. Pengabdian dilakukan tanpa pamrih, tanpa tuntutan pengakuan, dan tanpa meminta tepuk tangan manusia.
Di tengah dunia digital yang semakin bising oleh pameran diri, Sekumpul hadir sebagai oase ketenangan. Sebuah bukti bahwa ketulusan tidak memerlukan sorotan lampu panggung untuk sampai ke relung jiwa. Di tempat ini, kesahajaan tetap dijaga, dan niat tidak pernah berkhianat pada tujuan awalnya. (Sumber: grup medsos dan Wa)


