Mengungkap Fakta dan Keadilan
Indeks

Effendy, Ikhtiar Membangun Intelektual Organik

Oplus_131072

(Forum Ambin Demokrasi)

ASPRASINEWS – Sudah lebih 100 hari Dr. Muhammad Effendy, berpulang. Namun mengikuti suasana dialog Forum Ambin Demokrasi, rasanya beliau masih ada di tengah kami. Sebab, biasanya beliau lah yang menggagas, mencetus ide dan gagasan, terutama terkait isu-isu demokrasi, hukum dan pemerintahan. Bahkan Forum Ambin Demokrasi ini, beliau yang menggagas, karena merasa admosfir “kampus”, kurang begitu terbuka dalam melakukan gerakan atau menggulirkan gagasan guna menyahuti berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat, kata Noorhalis Majid, selaku moderator pada dialog bertajuk “Mengenang Dr. Muhammad Effendy; Membangun Intelektual Organik dan Keberlanjutan Antar Generasi”, Minggu, 15 Februari 2026, di Rumah Alam Sungai Andai.

Hadir menjadi narasumber, Setia Budhi, (Ademisi Fisip ULM), Erich Kaunang (Prodi Inter-religous studies. Sekolah Pascasarjana UGM). Calvin Nathan Wijaya (Peneliti Sosial, Alumni Universitas Indonesia dan The Universitas Melbourne, Bidang Kebijakan dan Manajemen Publik).

Sejak tahun 90-an, Muhammad Effendy aktif dalam berbagai forum diskusi. Walau tidak tertarik untuk terjun dalam politik dan pemerintahan, namun dalam isu-isu menyangkut politik, pemerintahan, demokrasi dan hukum tata negara, dia selalu menjadi narasumber utama. Pengetahuan yang dimilikinya selaku akademisi, tidak hanya diberikan di ruang-ruang kuliah, namun di berbagai forum, sehingga pendapatnya menjadi rujukan, kata Setia Budhi.

Sementara itu Erich Kaunang, selaku peneliti IRS UGM, menegaskan bahwa akademisi dan intelektual, mestinya memang menjadi bagian dari berbagai problem di masyarakat. Merujuk pendapat Antonio Gramsci, bahwa intelektual organik, adalah pemikir yang lahir, tumbuh dan terikat langsung dengan kelompok sosial atau kelas tertentu, entah itu buruh, petani, aktivis, guna merumuskan ideologi dalam membangun kesadaran, menciptakan hegemoni budaya guna melawan dominasi penguasa. Berbeda dengan intelektual tradisional yang netral, intelektual organik berperan aktif membawa perubahan sosial, sesuai bahasa yang dipahami masyarakat. Muhammad Effendy, pasti melakukan hal tersebut melalui pikiran, ucapan dan tulisan-tulisannya.

Calvin Nathan Wijaya, memaparkan sejumlah kegiatan yang selama ini ia geluti bersama kelompok masyarakat marjinal, terutama para pemulung, manusia silver dan gelandangan, termasuk masyarakat korban bencana ekologi di Sumatera. Dalam pendampingan lapangan bersama kelompok masyarakat, ia merasa pengetahuan yang dimiliki selaku intelektual atau akademisi, sering kali berjarak dengan problem-problem yang digeluti masyarakat. Terkadang, justru akademisi dan intelektual itu sendiri yang banyak belajar kepada masyarakat. Karenanya, intelektual organik itu adalah orang yang mau mendegarkan, bukan orang yang hanya ingin berbicara dan menyampaikan.

Turut hadir dalam diskusi sore itu sejumlah tokoh, akademisi dan sejumlah anak muda, antara lain Dr. Fahriannor, IBG Dharma Putra, Winardi Sethiono, Berry Nahdian Furqon, Nanik Hayati, Ida Adul, Ikhsan el Haq, Abdani Sholihin, Soraya, Arif Rahman Hakim, Kisworo, Halimun Hakim, dan beberapa mahasiswa.

Kalau pengetahuan difungsikan untuk melakukan pecerahan dan perubahan, itulah intelektual organik. Muhammad Effendy sepanjang hidupnya bukan hanya sebagai akademisi yang mengajar, tapi turut menjadi bagian dinamika masyarakat di Kalimantan Selatan. Di kampus, berbagai idealisme sering kali terhambat oleh birokrasi. Effendy membangunnya dari luar kampus, sehingga dapat menyikapi berbagai persoalan, tanpa takut terhalang rumitnya birokrasi, kata Dr. Fahriannor, akademisi FISIP ULM.

Bagi saya, Muhammad Effendy bukan intelektual organik sebagaimana yang digambarkan Gramsci. Beliau tidak berada di barisan depan para petani, masyarakat adat, atau kelompok kaum marjinal. Beliau lebih tepatnya sebagai jembatan penghubung antara kelompok warga yang tertindas dengan para pengambil kebijakan. Dengan ilmu pengetahuan dan pengaruhnya, beliau memberikan masukan, kritik dan koreksi, atas berbagai kebijakan yang menindas masyarakat, katas Berry Nahdian Furqon.

Intelektual organik itu orang yang tidak hanya bergelut dan berbicara tentang dirinya, keluarganya atau kelompoknya. Namun orang yang mengabdikan pengetahuan dan ilmu yang dimiliki untuk semua orang yang tak terhingga. Muhammad Effendy melakukan tugas tersebut dengan sangat baik. Sulit mencari akademisi seperti itu. Effendy, selalu mengunakan pengetahuannya dalam membangun kemaslahatan umum, kata IBG Dharma Putra.

Tantangan kedepan, bagaimana intelektual organik dapat berperan di tengah era 5.0, di antara algoritma yang sering kali belum tentu benar. Sebab itu, diperlukan pemikiran dan langkah strategis, sehingga berbagai perubahan, dapat disikapi dengan bijak, kata Ikhsan el Haq

Kami berdiskusi berbagai hal dengan beliau, dia selalu gelisah apabila ada kebijakan atau isu-isu yang dirasa kurang sesuai. Dengan pengetahuan yang dimiliki, dia memberikan masukan dan pemikiran. Tidak hanya berdiam diri, tapi mendorong satu gerakan yang bertujuan untuk perubahan, kata Winardi Setiono, mengenang teman akrabnya Dr. Muhammad Effendy. (nm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *