Mengungkap Fakta dan Keadilan
Indeks

Kanal Veteran, “Matinya Fungsi Sungai”

(Ambin Demokrasi)

Oleh: Noorhalis Majid

ASPIRASINEWS – Jangan senang dulu dengan pembangunan Kanal Veteran yang seolah memberi harapan. Coba lihat di ujungnya, persis di depan Tampekong, sedang dibangun pintu air. Kelak kalau sudah selesai, pintu air ini justru menjadi masalah bagi Kanal Veteran itu sendiri. Kabarnya, pintu air ini bahkan dibangun di sejumlah tempat. Termasuk di sungai Gardu, muara sungai Guring, sungai Keramat dan muara sungai Kelayan.

Dalihnya sebagai pengendali banjir. Namun jangan lupa, kontur tanah yang rawa serta gambut, memungkinkan air masuk dari mana saja. Mungkin di Kanal Veterannya dapat sedikit dikendalikan, tetapi di kolong-kolong rumah dan selokan yang tersebar di setiap lingkungan hunian warga, menyebabkan air mengalir dari segala alur yang bisa dilewati.

Belum lagi terhadap fungsi sungai dan upaya memulihkan budaya sungai. Saat pintu air selesai dibangun, ketika itulah harapan untuk memulihkan fungsi sungai sebagai sarana transportasi, dan kehidupan budaya sungai, akan terhenti dan tinggal mimpi. Lihat saja pintu air yang sudah dibangun, baik di sungai Tatas atau pun sungai Belasung, keberadaannya telah mematikan fungsi sungai. Mengerucut hanya menjadi sarana pengelolaan drainase.

Penting untuk diketahui, dahulu di sungai Veteran, jukung tiung bisa melewatinya. Pedagang kecil, dapat menjual dagangannya melalui perahu dan menyambangi rumah-rumah yang dilewatinya. Mimpi memulihkan sungai Veteran, tidak sekedar agar air mengalir atau sebatas dranase besar yang menampung curah hujan serta air pasang. Tujuannya juga agar budaya sungai kembali hidup, termasuk budaya transportasi air yang unik dan menjadi ciri khas bagi kota Banjarmasin.

Bahkan di sungai tersebut, kebudayaan marga Tionghoa yang berbaur dengan kebudayaan Banjar, dapat turut dipulihkan. Berbagai tradisi seperti Peh Cun, yaitu karnaval beraroma budaya Tionghoa saat sungai sedang pasang dalam, serta budaya sembahyang bulan dan pawai mengelilingi 7 jembatan. Semua kebudayaan yang pernah hidup di masa lampau, sangat mungkin dipulihkan, manakala kanal Veteran kembali difungsikan dan tidak sekedar menjadi selokan besar penampung air.

Tentu sudah banyak masukan kepada Balai Wilayah Sungai (BWS) sebagai pelaksana proyek, agar bentuk pintu air yang dibangun tidak justru mematikan fungsi sungai. Buatlah pintu air yang ramah dengan sarana transportasi air. Bahkan secara teknis sangat mungkin dibuat seramah mungkin dengan segala fungsi dan kebudayaan sungai warga Banjarmasin.

Diharapkan, pembangunan kanal Veteran dan pintu airnya, benar-benar menjadi solusi. Bukan justru menjadi masalah baru yang tidak membanggakan, karena fungsi sungai yang dimimpikan ternyata justru mati dengan keberadaan pintu air. (nm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *