ASPIRASINEWS, PURUK CAHU – Sejarah perjuangan rakyat Kalimantan, khususnya perjuangan masyarakat Dayak dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, kini mulai jarang digaungkan, baik melalui media elektronik, cetak maupun platform digital. Padahal, jejak perjuangan para tokoh pejuang terdahulu memiliki nilai penting untuk dikenang dan diwariskan kepada generasi muda.
Melalui tulisan singkat ini, Aspirasinews.com mengajak para pemuda dan pemudi untuk kembali mengenang jasa para tokoh perjuangan Dayak di Kalimantan Tengah (Kalteng), dengan semangat “Jangan Sekali-Kali Melupakan Sejarah”.
Mengutip catatan sejarah dari Pakat Dayak pada Minggu (24/5/2026), salah satu tokoh penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di wilayah Dayak Besar adalah almarhum Ibung Bangas, seorang pemuda dari Suku Dayak Ngaju, Kalimantan Tengah.
Ibung Bangas dikenal sebagai pelopor FUSU TJO GAKKO dari Taman Siswa. Bersama tokoh perjuangan Pieter K. Sawong, ia mendapat mandat untuk mendirikan GP3 (Gerakan Pelopor Penegak Proklamasi) sebagai wadah perjuangan rakyat Dayak dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Sebagai tindak lanjut dari mandat tersebut, pada 12 Desember 1945, digelar rapat penting di kediaman J.M. Nahan. Pertemuan itu dihadiri oleh Pieter K. Sawong, Sikur Patus, Timmerman Brahim, dan J.M. Nahan. Dari rapat tersebut lahir kesepakatan untuk membentuk GP3 di wilayah Dayak Besar sekaligus melakukan perekrutan pemuda sebagai kekuatan perjuangan.
Gerakan ini mendapat sambutan luas dari kalangan pemuda, di antaranya M. Yunus, Atak Dillah, Amat Benyamin Amei, Batara Linggar, Ady Suryadi, Christoffel Binti, dan JP. Ngampun yang turut bergabung dalam perjuangan.
Memasuki 21 Juli 1946, sekitar 20 pemuda Dayak kembali berkumpul dalam sebuah rapat besar yang bertujuan membentuk organisasi perlawanan terhadap Belanda. Dari pertemuan itu lahirlah Gerakan Revolusi Rakyat Indonesia (GRRI) sebagai organisasi perjuangan rakyat Dayak melawan kolonialisme.
Sekitar setahun kemudian, tepatnya pada 21 Maret 1947, berbagai badan perjuangan seperti GP3, Laskar Kilat, Laskar Merah Putih, Katraco, dan kelompok perjuangan lainnya resmi melebur ke dalam satu organisasi besar bernama GRRI.
Dalam perjalanan perjuangannya, GRRI mengeluarkan tiga maklumat penting yang ditetapkan oleh Panglima Gerilya Markas Besar Tentara GRRI, yakni memerintahkan seluruh pasukan menyerahkan senjata kepada tentara GRRI paling lambat 19 Desember 1948, menyatakan GRRI memegang kekuasaan terhadap Pemerintahan Dayak Besar bentukan NICA, serta memastikan pasukan GRRI selalu siap tempur menghadapi NICA dan para pendukungnya.
Kemudian pada 2 Desember 1948, digelar rapat rahasia di Bukit Ngalangkang, yang dihadiri Pieter K. Sawong, Ibung Bangas, A. Sendol Ranggan, Siang Hinting, Amberi Lihi, Itakri Tueng, dan Anang Aini. Dalam rapat tersebut diputuskan bahwa Pieter K. Sawong menjadi pimpinan GRRI dengan Ibung Bangas sebagai wakil pimpinan. Keduanya bertugas menyusun organisasi, kepangkatan, pembagian tugas, hingga struktur jabatan.
Selain itu, rapat juga menetapkan agenda besar berupa pelaksanaan rapat akbar pada 20 Desember 1948 di Kota Tewah, yang akan melibatkan masyarakat Dayak Besar serta unsur pemerintahan Dewan Dayak Besar.
Tepat pada 20 Desember 1948, ribuan masyarakat Dayak Besar bersama pasukan GRRI berkumpul di Lapangan Tewah dengan mengenakan pakaian dan peci hitam untuk melaksanakan upacara pengibaran Sang Merah Putih.
Dalam momentum bersejarah tersebut, Pieter K. Sawong bertindak sebagai inspektur upacara, sementara Ibung Bangas dipercaya menjadi komandan upacara. Pada kesempatan itu, Pieter K. Sawong membacakan kembali teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, yang dilanjutkan dengan pembacaan Proklamasi Pemerintahan GRRI.
Melalui perjuangan tersebut, nama Ibung Bangas dikenang sebagai salah satu tokoh penting perjuangan rakyat Dayak di Kalimantan Tengah yang berperan besar dalam mempertahankan semangat kemerdekaan di wilayah Dayak Besar bersama Pieter K. Sawong dan para pejuang lainnya. (GST)












