Mengungkap Fakta dan Keadilan
Indeks
Opini  

KARTINI, PERJUANGAN KETIDAKADILAN

(Ambin Demokrasi)

Oleh: Noorhalis Majid

Apa substansi dari perjuangan Kartini? Tentu saja perjuangan tentang ketidakadilan. Segala yang mengakibatkan ketidakadilan, entah itu ekonomi, politik, sosial dan budaya, maka penerima dampak ketidakadilan yang utama adalah perempuan.

Memperingati hari lahir Kartini, adalah mengenang sosok perempuan yang memperjuangkan kaumnya dari ketidakadilan.

Baju kebaya dan sanggul hanyalah simbol fisik dan bahkan aksesoris dari pakaian yang dikenakan Kartini, sedangkan yang substansi adalah perlawanan tentang ketidakadilan. Jangan hanya ramai pada simbol-simbol, sedangkan yang substansi justru marak di depan mata.

Percuma bila hanya kebaya dan sanggul yang memikat, sedangkan daya kritis, nalar, pemahaman, pemikiran dan pengetahuan, tidak pernah diasah untuk mampu mengangkat harkat, martabat, kedudukan, serta harga diri kaum sendiri.

Hari ini walau sudah 147 sejak Kartini lahir, masih ada orang ditolak bekerja karena dia perempuan. Dicekal menduduki jabatan politik karena dia perempuan. Dihambat kesempatannya untuk mengembangkan karir karena dia perempuan. Dan lain sebagainya. Lihat saja, dari sekian banyak jabatan politik, pemerintahan, hingga berbagai posisi struktural atau pun fungsional di berbagai lembaga, berapa gelintir saja perempuan yang diberikan kesempatan? Bahkan kalau ada PHK, maka perempuan sering kali menerima ketidakadilan, karena yang dipilih untuk di PHK terkadang jatuh pada perempuan.

Kartini melawan ketidakadilan dengan cara pendidikan. Memberikan kesempatan belajar dan sekolah setinggi-tingginya kepada semua kaumnya, agar mampu mengangkat martabat dan kedudukan perempuan. Walau dalam perjalanannya, Kartini sendiri dicekal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan dipaksa menjalani hidup berumah tangga. Seandainya waktu itu Kartini dibolehkan mengecap pendidikan yang lebih tinggi hingga ke Eropah, sebagaimana kaum laki-laki terdidik pada waktu itu, pastilah Kartini akan mampu mengangkat drajat kaumnya jauh lebih tinggi lagi.

Kartini tidak asyik dengan dirinya sendiri. Kartini lebih mementingkan nasib kaumnya. Bahkan Pramoedya Ananta Toer, menulis pesan tersirat dari perjuangan Kartini melalui satu kalimat yang menjadi judul bukunya, “panggil aku Kartini saja”, yang menggambarkan egalitarian, kesetaraan dan kesamaan hak serta martabat. Tanpa melihat status sosial, kekayaan, kedudukan dan jabatan apapun. Ketika kesetaraan sudah menjadi pondasi, maka keadilan terhadap perempuan akan terwujud. (nm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *